
Cerpen Pendek?
Sudah Cerita Pendek
masih dibuat pendek
iseng banget?
[ ARSIP-ARSIP]
12/01/2003 - 01/01/2004
AGUSTINUS WAHYONO
berasal dari kampung
Sri Pemandang Pucuk
Sungailiat, Bangka...
[selengkapnya klik saja]
STASIUN TRANSITO :
[:: STASIUN CYBERIUM
::]
JALINAN KARYA :
[> KUMPULAN CERPEN
[> KUMPULAN SAJAK
[> KUMPULAN KARTUN
TEMPAT SINGGAH :
[*
CYBERSASTRA
[*
BUMIMANUSIA
[*
CERPEN KORAN ONLINE
@ 2003 onoy budak bangka
[ID YM : onoytinus]
Jl. Batintikal 174
Sungailiat 33214
Bangka
[Bangka Belitung]
INDONESIA
Alamat E-mail:
namanyawahyono@yahoo.com
[Monday, December 08, 2003]
Cinta Itu Coitus ?
Aku berasal dari sebuah kampung temaram yang sedikit agak tersingkir dari kemeriahan kota yang berkubang sinar pelangi malam hari. Setiap melihat atau mendengar secuil saja hal yang baru bagiku, sontak mataku terbelalak, mulutku menganga. Aku sering digelari kawan-kawan baruku, "Orang udik yang heran melihat peradaban mutakhir". Ada yang menyingkat, "Orang heran". Disusul tawa terpingkal-pingkal. Tentu saja aku hanya bisa merespon dengan pipi sewarna tomat matang. Apa daya, mungkin mereka benar.
Belum sampai lima kali kalender berganti aku berada di daerah yang agak bermandi pelangi elektrik ini. Dibanding kampung asalku, daerah yang baru kutinggali ini lebih sering diocehi orang-orang, klakson, knalpot, mesin kendaraan dan sirine. Bahkan omelan itu berhamburan setiap hari, terlebih saat jarum jam hinggap di angka 7, 8, 11, 1, 2, 7, 8. Pada awal aku tinggal di situ, aku sering terbangun. Dadaku berdetak lebih kencang beberapa detik dari biasa. Tanpa ada apa-apa, alam bawah sadarku merekam ocehan-ocehan itu hingga sekonyong-konyong membuncah pada saat rembulan tiga perempat baya.
Setiap kejadian seperti itu, seketika kantukku melesat tanpa alamat. Kucari di lipatan diktat, kusingkap di balik selimut, kusibak di kelopak mataku, tetap saja kantuk itu sudah tak berbekas. Terpaksa aku seperti kera kehilangan ekor. Efeknya, kawan-kawanku cekikikan di kamar mereka. Cekikikan? Ya, dari sebelah kamar kosku pada suatu malam.
"Makanya, Ji, jadi laki-laki musti punya perempuan. Contohnya kami ini."
"Untuk?"
“Ya untuk kalau tiba-tiba kau terjaga semacam itu.”
“Lantas?”
“Ah, kau ini udik betul, Ji Oji. Memalukan pergaulan.”
“Iya tuh, dasar udik kawanmu! Mana bisa hidup di kawasan berkelimpahan lampu!”
“Sssst… jangan heran, my sweetheart, si Oji memang orang udik, orang heran!”
Aku tersipu oleh sapuan kata-kata itu. Gadis di sebelah kawanku tersenyum terus. Entah sudah terhitung berapa malam gadis itu mengungsi ke kamar kawanku (Mungkin kamar kos gadis itu tiba-tiba diterjang tanah longsor, angin topan, banjir bandang, badai besar, angin bahorok). Entah sudah terhitung berapa kali pakaian dalamnya dijemur di jemuran kami (Aku yakin itu punya dia, karena warnanya merah muda, berenda-renda dan bordir bergambar Desy bebek sedang tertawa ngakak). Entah sudah atau belum kawanku melapor ibu kos kami yang rumahnya di belakang kos kami.(Apa gunanya melapor?)
“Oji, kau sudah pernah pacaran?”
“Sudah. Tapi pacarku ada di kampung.” (Aku memang punya pacar. Sungguh).
“Sudah pernah bercinta?”
“Ya jelas. Kami kan saling mencinta.” (Suaraku mantap!)
“Wah, ini dia! Suit suiiiiiiit!”
“Rupanya boleh juga kawan udik Mas ini. Agak sedikit lumayan modern deh.”
“Bercinta begini? Make love?” (Kawanku menyelipkan jempolnya di sela pangkal jari telunjuk dan jari tengah. Aku mengerti apa arti simbol itu sejak dari kampungku.)
“Bukan. Orangtuaku bilang, sebelum nikah resmi, begituan itu zinah, zinah itu dosa, dosa bakal dihadiahi belerang membara abadi. Masuk neraka.” (Seperti juga kata guru agama dan budi pekerti di sekolah dasarku dulu. Ajaran guruku mirip kata-kata orangtuaku)
“Tertipuuuuuuuu…”
“Idiot sekali!”
“Ru-gi, you know!” (Pacar kawanku ikut-ikutan menimpali sambil tersenyum lagi)
“Betul-betul udik! Heran. Engkau tergolong orang-orang merugi, wahai myfriend.”
Aku tersipu lagi. Aku orang merugi? Apakah akibat orangtuaku dan guru agamaku yang membuat perintah keliru, kadaluarsa, kuno, tidak up to date? Perintah ngawur? Apakah juga suatu perintah moral harus dikeluarkan setelah melalui proses studi lapangan di lingkungan anak-anak muda lainnya? Aku tidak habis mengerti atas perbedaan ini.
“Eh, Oji orang heran. Camkan, baik-baik ya. Jaman kini cinta itu coitus.”
“Coitus? Cinta itu coitus?”
“Iya. Coitus itu cinta. Cinta tanpa coitus, itu bukan cinta. Cuma kawan bersapa.”
“Coitus itu apa?” (Kata “coitus” tidak pernah ada dalam perbincangan orang-orang kampung kami, tidak diajarkan di sekolah hingga kini aku berkuliah di fakultas Ekonomi)
“Ya seperti ini…” (Pacar kawanku memperlihatkan dua jarinya bertemu ujung membentuk lingkaran lalu jari telunjuk satunya masuk di tengah lingkaran kosong itu. Aku tahu apa arti simbol itu dari kawan-kawan kampungku). “Kamu tahu artinya? Ihik lho…”
Oh!
Aku terperanjat. Setahuku, di kampung kami, para perempuan tidak seenaknya seperti pacar kawanku itu. Tidak senonoh. Saru. Tabu. Porno. Bejat. Cabul. Pokoknya bisa disebut perempuan nakal. Bahkan kakak perempuanku, adik perempuanku, anak tanteku dan keponakan perempuanku tidak satu kali pun kulihat berbuat seperti itu. Apa mungkin keluargaku dan kampungku termasuk salah mengamalkan perintah? Aha! Mudik hari raya nanti aku akan bilang ke keluarga dan orang-orang kampung kami, bahwa ada perintah baru di tempat lain yang sesuai peradaban masa kini. (Mereka pernah bilang aku ini pembaharu).
*******
bumiimajibabarsari, 6 november 2003
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:17 PM
Aauuuuuuuum!
Aku tidak tahu entah bagaimana muasalnya kau nyelonong masuk sebuah rimba sastramaya dan langsung mengaum-aum, memamerkan taring dan kuku runcingmu, wahai anak singa angkasa. Kau datangi beberapa penghuni. Kau cakar jemari mereka. Kau cabik bibir mereka. Kau robek kulit mereka. Lantas kau mengaum.
Aaaaauuuuum…
Seketika mereka pun balas menggasak. Ggggrrrrrkkkkkhqqqq! Kroak!! Kresek!!
Aaaaauuuuum...
Rimba sastramaya sebagaimana arena pergumulan yang sengit, semakin gaduh oleh aksi unjuk kekerasan itu. Kedatanganmu memperkeruh pertarungan yang semula telah berkecamuk. Entah pertarungan apa. Entah siapa yang bertarung melawan siapa. Biarkan saja. Toh penghuninya bukan lagi anak serigala yang berebutan bangkai tikus kecurut. Yang aku tahu, ada raja rimba di sini, kendati ia tak sudi dijuluki raja singa.
Aaaaauuuum….
Suaramu bukan sekadar pertanda hadirmu, melainkan luka yang kau bawa entah dari mana dan dari siapa (aku belum menemukan sidik taring ataukah kuku di lukamu). Taring kuningmu masih berhias merah, kuku runcingmu tersimpan daging kering (entah daging siapa yang tercungkil dan tersimpan di situ), dan tetesan cairan merah menjadi jejak yang kentara. Aroma anyir mengiringi langkahmu. Dan aku membaca luka yang entah siapa korbannya. Tapi aku tidak peduli apa perkara yang bisa meluka, siapa korban atas salah siapa. Bukan urusanku, wahai anak singa angkasa yang tiba-tiba cengeng ketika satu hari saja mendung tak memayungi ubun-ubunmu dari tusukan kuku-kuku matahari.
Tetapi suatu waktu kau datangi pertapaanku di bawah naungan langit eternit. Juga dengan mengaum-aum dan semerbak aroma amis. Mulutmu menganga. Kau pamerkan dirimu sebagai singa yang bertaring tajam. Kau pun mencakar-cakar pohon kelapa patah yang disambar halilintar. Kau pamerkan kuku runcingmu, sekaligus mengasah senjata. Kemudian kau berkisah telah meruntuhkan awan-gemawan dan membenamkan mereka di bawah laut kemelut yang tak berkutik.
Aaaauuuuuuum…
Wahai anak singa angkasa, aku memang bukan pawang binatang buas atau juga pemain sirkus di panggung akrobatik dialektika. Aku hanya anak kampung yang terkungkung dalam pasungan tradisi usang. Namun rimba sastramaya ini cukup keras menghajar kedunguanku mematuhi kata-kata. Rimba sastramaya ini telah menumpulkan kepatuhanku pada kuasa kata. Di rimba ini kata-kata tak lebih dari isi septiktank milik segerombolan bandot dan dedengkot sastra.
Ya, aku beranjak menolak kata-kata, wahai anak singa angkasa yang pongah menggoreskan sumpah serapah sekaligus luka nganga di layar monitorku. Meski kau berusaha manja dengan mendesak-desakkan kudukmu yang berbulu halus itu di sela jemariku, aku tetap tahu bahwa engkau adalah anak singa! Anak singa! Jangankan singa semacammu yang mengerikan jika mencabik-cabik, seekor kucing pun aku sudah tidak tertarik untuk mendekapnya. Kau tahu kenapa? Ini soal penyakit. Belum kalau tiba-tiba dia menggigit, mencakar dan langsung pergi sambil menggondol ikan tenggiri ibuku. Kau tahu artinya?
O anak singa angkasa yang mendadak lara ketika ada pejantan yang tidak peduli pada halus-mulus bulu-bulumu, aku betul-betul belum percaya aummu dan goresan cakarmu adalah sebuah kasih sayang. Apalagi seenaknya kau dengungkan kalimat,
“Kaulah jantanku, akulah betinamu.
Aku bukanlah macan. Aku bidadari.
Aumku cuma sandiwara panggung sirkus para balita.
Mari kita renangi lautan mentari yang tak lagi diarungi perahu-perahu haru dan tak dijembatani bianglala lagi.”
Bah! Itulah igauan bulan yang telah berjuta abad ditinggalkan surya! Dalam tempurung kepalaku yang mungil ini telah terisi ingatan dan pencitraan yang lembut tentang kasih sayang. Embun yang sesekali menyelinap dari ketiak rambutku pun selalu menyuguhkan drama kasih sayang yang tidak membuat infeksi bahkan amputasi pada siapa yang dikasihi.
Mungkinkah lantaran aku terlalu konservatif dan super naïf?
Tidak masalah, o anak singa angkasa yang kadangkala tiba-tiba laksana kura-kura kehabisan pizza. Tidak masalah apa stempelisasi yang menghujani baju kumalku ini. Sebagian penghuni rimba ini pun membisiki aku tentang kasih sayang angin, kasih sayang bayang-bayang, yang hanya sebatas kata terdiri atas lima huruf lantas tak usah payah-payah direkayasa menjadi kesejatian apa-apa selain meninggalkan noda dehumanisasi yang sistematis.
Kini aku masih di sini, di rimba sastramaya, sambil memintal benang cinta agar tersulam menjadi pakaian pengantinku. Kata-kata para penghuni rimba bersliweran, saling menerkam, menikam, menggigit, mencabik, mencakar, mengelus, membelai, meludah dan lain-lain. Bising sekali. Aku keasyikan dengan kegiatanku. Aku tidak menyadari kehadiranmu. Aummu tertimpa hingar-bingar mereka. Aku cuma bisa terkejut ketika kurasa ada seonggok sosok sekonyong-konyong menyandarkan di punggungku.
Kau memang anak singa, walaupun kau berusaha menyembuyikan bunyi aummu dan menyulih suarakan dengan meong mirip kucingku yang suka bermanja-manja diantara kewaspadaan kami pada penyakit yang mengintip di sela-sela bulunya. Aku tidak tahu bagaimana posisi mulut dan taringmu. Aku tidak tahu bagaimana posisi kuku-kukumu. Yang aku tahu bahwa aku tiba-tiba menjadi risih sewaktu kau ciumi sikutku. Andai dagingmu halal untuk dimakan, bisa jadi kemarin-kemarin kau sudah kucemplungkan dalam panci ibuku yang biasa dipakai untuk masak bebek presto, supaya bisa kutelan sekalian taring dan kuku runcingmu.
***
bumiimajibabarsari, nov2003
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:16 PM
Kala Gerimis Mengiris Malam
Rembulan dirundung mendung. Gerimis masih menangis sejak senja kelabu tadi. Munaf melirik jam dinding di kamarnya. Pukul 21.47 WIB. Belum sampai jam sepuluh malam, hanya satu-dua kendaraan bermotor yang melintas. Tidak seperti malam-malam lampau. Sudah satu minggu ini pula kawan-kawannya tidak datang untuk sekadar singgah, melumat malam dalam perbincangan tak berguna, rencana berlatih sepakbola, terbahak-bahak dan menyumpal udara kamarnya dengan asap rokok sampai menjelang subuh memanggil mereka pulang.
Aaaarkh, desahnya sambil mengulet di sandaran kursi kayunya.
Munaf mematikan komputernya untuk sementara mengakhiri penulisan proposal skripsinya. Lalu ia merapikan kertas-kertas di meja belajarnya. Sebentar itu bangkit untuk meletakkan beberapa buku tebal di rak buku. Ekor matanya sempat melirik sebuah kitab suci berdebu yang juga teronggok di rak itu. Dulu, setiap hari ia membacanya.
Kemudian ia menghidupkan tape recorder-nya. Segera terdengar dendangnya dengan nada lembut.
Aku mengagungkan Engkau
Aku memujamuji Engkau
Layaklah kusembah Engkau
Hanya Engkau, cuma Engkau
Lantas ia melanjutkan kegiatan merapikan benda-benda di mejanya sembari bersiul lirih mengikuti irama lagu dari tape recorder-nya. Tentu saja ia hafal irama lagu tersebut, sebab selama bertahun-tahun ia aktif dalam bidang kerohanian. Ia lebih hafal lagu-lagu semacam itu daripada lagu “Sephia”-nya Shella on 7, “Arjuna Mencari Cinta”-nya Dewa 19 apalagi lagu-lagu heavymetal-nya Metallica.
Di sela-sela aktivitasnya Munaf berencana besok pagi berangkat ke kampus untuk berkonsultasi proposal skripsi dengan dosen pembimbingnya. Ia berharap besok dosen pembimbingnya langsung menyetujui dan tidak menuntut yang serba susah. Sebab, berdasarkan cerita-cerita dari pengalaman kawan-kawannya, menggarap skripsi itu pun sangat tergantung pada dosen pembimbing. Bukan saja masalah tuntutan macam-macam, melainkan juga masalah jadwal pertemuan dengan dosen pembimbing, serta masalah kondisi fisik maupun psikis dosen pembimbing. Dalam hati ia berdoa, semoga dosen pembimbingnya tidak rewel.
Munaf menghela nafas lepas-lepas. Dibenahinya lagi sarung butut pemberian mendiang kakeknya. Ditenggaknya sisa kopi yang telah dikunjungi beberapa ekor semut. Glek! Glek! Glek! Suaranya kencang seolah tengah menelan kegalauan.
Munaf sangat menginginkan semester ini ia bisa menyelesaikan masa kuliah yang sudah lebih dari enam tahun untuk sebuah gelar S-1-nya. Apalagi ayahnya yang mengidap penyakit darah tinggi itu sudah pensiun, ibunya hanya berwiraswasta dengan menggarap kue-kue pesanan, kedua kakaknya telah berkeluarga, dan kedua adiknya juga sedang memasuki masa penulisan skripsi. Munaf percaya bahwa Tuhan pasti sudi menolongnya, dan akan mengabulkan harapannya serta harapan kedua orangtuanya.
Usai menata meja dan membereskan berkas-berkasnya, Munaf menoleh ke ranjang. Ia tersenyum kala melihat seorang gadis berkaos singlet warna merah menyala dan bercelana pendek sekali tengah berbaring telentang sambil memijat tuts-tuts telepon selulernya. Gadis yang sebelumnya adalah rekannya satu kelompok sewaktu KKN dan kini jadi kekasihnya itu sudah lebih dari empat malam menginap di kamar kos Munaf.
Di luar sana rembulan telah tenggelam. Gerimis mengiris malam.
*******
bumiimaji, 2003
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:15 PM
Dari Senja Utama ke Sajak Kita
Senja runtuh di ufuk barat stasiun kota. Kubaca lagi angka tertera duduk di mana. Para penumpang mengalir tergesa-gesa. Lega kudapati kursiku pasrah menganga.
Gerbong masih didera penumpang kelana. Kuangkat barang-barangku ke bagasi kereta. Kamu datang dengan bawaan tanpa tegur sapa. Periksa angka dan huruf untuk yakinkan mata.
Sebagian penumpang sampai di kursi haknya. Barang-barangku tertata nafasku pun terhela. Kamu juga usai mendesakkan barang entah apa. Barangmu dan barangku bersanding betapa mesra.
Bayang-bayang senja pecah di kaca jendela. Letih tubuhku disangga kursi batu merata. Sesekali kulirik barang-barangku di atas kepala. Sesekali kulirik dirimu melakukan apa saja.
Bulan telah berlayar di samudera angkasa raya. Kamu bertanya, turun di mana, di mana Jogjanya. Ritual perkenalan umumnya, aku anggap biasa. Pikirku juga kamu sekadar membunuh nirkata.
Di atas kereta bintang-bintang merajalela. Satu kata lepas, dua kata bebas menggelora. Beku mencair kaku melumer dibakar kata. Nirkata akhirnya mati teraniaya semena-mena.
Jendela sebelahku dilembabkan udara. Terus kita berbincang mencincang hampa. Makin asyik, makin masyuk di sela canda. Tak lupa kamu membakar rokokmu, menyumpal gerbong dengan asap. Jarum jam berpindah massal sampai tak terasa.
Di gerbong kereta kita saling tukar angka. Dengan jempol mengeja angka dan kata. Kosong delapan sekian-sekian, dan kamu juga. Nomormu, nomorku, nomor kita berdua.
Bulan mungil menggigil di angkasa. Kereta terus berlari mengejar masa-masa.
Aku sudah kehabisan kata hingga terlena. Seketika kata-kata punah kantuk melanda.
Malam telah senja di kelam cakrawala. Gerbong kita bersemburan suara mulai bungkam kian tenggelam berganti nuansa. Aku terjaga dari pelukan nyenyak sementara.
Malam dimakamkan di pematang desa-desa. Hilir-mudik orang-orang mencumbui pagi buta. Kulirik arlojiku bersama beragam rencana. Rutinitas siap siaga menghadang muka.
Gebyar fajar menyambut kedatangan kita. Suara-suara mengusir hampa yang tersisa. Kuturunkan satu-dua-tiga barangku segera. Memisahkannya dari barangmu merana.
Suara kereta merobek kebisuan stasiun Tugu Jogja. Kita sadar bahwa perpisahan sudah tiba. Aku akan kesana, entah kamu mau kemana. Mungkin juga waktu akan menyeret kita melupa.
Stasiun berlalu dengan sisa lelah meronta. Riuh kereta masih melekat di lorong telinga. Tulait telpon selulerku menggetarkan rasa. Darimu dengan sms perdana menuju juta sampai stasiun KUA. Astaga!
***
babrsariyogya, 22 februari 2003
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:14 PM
Tetangga
Jangkrik menjerit panjang di halaman sempit depan kamar kosku, seakan sedang mati-matian memanggil hujan yang malam ini tidak hadir.
“Besok pagi kita berangkat jam tujuh atau setengah delapan selagi masih pagi,” kata suara dari sebelah kamar kosku.
Aku ingat, ada penghuni baru di sebelah kamar kosku. Tadi pagi dia masuk, dan langsung membereskan kamarnya. Tapi saat itu aku tengah tidak berada di kos, lantaran ada urusan kampus, dan pulangku pun baru saja.
“Bener lho ini,” kata suara itu lagi.
Dia ngomong dengan siapa sih, sampai berisik amat? Ah, mungkin ada teman di kamarnya, pikirku. Tapi, kok nggak ada suara lawan bicaranya.
Kupasang kupingku baik-baik. Daya pendengaranku kupertajam.
“Bungkuuuuus!”
Kok pakai bungkus segala? Jangan-jangan daun ganja kering nih. Wah, gawat betul kos-kosan ini kalau nanti jadi tempat transaksi barang begituan. Ah, peduli amat. Paling-paling kapan hari nanti kos ini digrebek kayak kosnya Oji dulu. Kalau ternyata penghuni baru ini termasuk bandar narkoba, sekalian dipenjara saja! Ah, mending aku tidur. Sialan, besok ujian pagi, dua mata kuliah lagi! Brengsek!
Lalu kupasang alarm jam wekerku, agar benda itu berbunyi pas jam empat pagi.
***
“Ha ha ha ha…!”
Astaga, tertawa dengan siapa ya? Dari aku pulang ujian tadi, kos-kosan sepi banget. Di atas keset depan pintu kamarnya pun kutengok cuma ada sepasang sandal jepit baru. Suara-suara tipi pun tidak terdengar.
“O tolong ya!”
Ah, mungkin dia tengah berlatih teater atau semacam membaca puisi. Kalau ikut di kampus, kok kawan-kawannya nggak main ke kosnya. Padahal anak teater biasanya kompak banget. Atau, dia ikut komunitas seniman di luar kampus…
“Jangan begitu…”
Lho, dia tahu aku tengah memikirkan polahnya? Apa dia ngintip aku sedang mengintipnya, ya…
“Ha ha ha ha! Kampungan ‘kali kau!”
Sialan, dia menertawakan aku! Dia bilang aku ini kampungan? Bajingan! Sombong banget pendatang baru satu ini! Mentang-mentang orang kota besar, orang kaya, seenak main hina orang!
“Makanya, kesinilah kau… Jangan macam kodok dalam batok kelapa!”
Aku? Dimintanya datang ke kamarnya? Dia samakan aku dengan kodok? Kodok dalam batok kelapa lagi?? Bangsat! Baru juga pindah ke kos ini dia sudah macam-macam. He he he… Kalau tengah hari panas terik begini sampai terjadi pertumpahan darah, o-ow, jangan salahkan aku!
Kuselipkan pisau lipat di saku belakang celana jinsku. Dadaku berdegup kencang. Hirup dan helaan nafasku tertahan-tahan. Kepalaku panas seakan mau pecah. Kesabaranku ludes. Kemudian aku bergerak menuju sebelah kamarku, yakni kamar pendatang baru itu. Segera kuketuk pintu kamarnya yang sedikit menganga.
Tok! Tok! Tok!
“Ya, siapa?” tanya suara dari dalam.
“Aku, dari sebelah kamarmu.”
“Ada apa, Mas?” tanyanya sembari beranjak menuju pintu kamarnya.
“Lho, tadi bukannya kamu menyuruhku…,” suaraku mendadak terpenggal ketika kulihat ia berdiri sambil menggenggam telepon seluler.
*******
babarsariyogya, 9 Januari 2003
[cerpen ini akan dimuat di majalah AKSARA edisi IV]
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:12 PM
Kolam
Sisik-sisik matahari telah silih-berganti mencumbui ubun-ubun seorang anak kecil bertubuh kurus kering yang selalu duduk di bibir sebuah kolam berdiameter sepuluh meter. Semir sepatu yang isinya masih penuh dan tas rombeng berbintik jamur nyari merata itu ditaruhnya begitu saja di bawah bibir kolam yang kering. Matanya mengambang pada permukaan air kolam. Seringkali ia menelan air liurnya. Pada bidang permukaan air kolam itu tercetak eksterior berikut suasana pesta para pengunjung sebuah restoran mewah-berlantai tiga nan terkenal yang terletak di seberang jalan selebar lima belas meter dari kolam itu.
Ketika matahari terinjak kaki langit barat dan bulan pucat sebesar uang logam seratus rupiah berlabuh di permukaan air kolam serta disemarakkan oleh lampu-lampu indah dari lansekap restoran, anak kecil itu berjingkat-jingkat menuju kolam. Bayangan anak-anak tengah makan dengan lahap di depan aneka sajian atau keluar restoran sembari mengunyah steak kentang atau menjilat-jilat es krim begitu lekat menari-nari di kepalanya. Perlahan-lahan ia naik ke bibir kolam, lalu turun dan mencelupkan kaki ke permukaan kolam. Lantas ia menyelamkan dirinya menuju gerbang restoran, plasa, teras, pintu utama dan seterusnya. Dalam restoran itu akhirnya ia makan sekenyang-kenyangnya.
Fajar mekar mengabarkan temuan mayat anak kecil terapung di kolam kota itu dengan perut sudah membuncit berisi air kolam. Sementara orang-orang beserta anak-anak mereka masih selalu datang untuk menikmati hidangan sambil tertawa riang di restoran itu.
*******
babarsariyogya, september 2002
[cerpen mini ini tergabung dalam antologi cerpen pendek “Batu Merayu Rembulan” (Yayasan Damar Warga, 2003)
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:11 PM
Selip Senja
Gadis berkaos ketat dan bercelana panjang jins masih berenang riang sendirian sewaktu surya jingga mencair keemasan di permukaan air laut Parangtritis. Tak jauh dari gadis itu, sekitar dua puluh meter, ombak setinggi lebih dua meter baku terkam, baku kejar menuju pesisir, juga menerjang-nerjang kaki karang yang menjulang tegar.
Surya jingga pelan-pelan tersapu awan kelabu, dan semburat keemasannya pun terhapus dari kanvas langit laut Selatan. Menara pengawas pantai membeku, tak ada siapa-siapa. Sendirian saja gadis itu berenang agak ke tengah, melebihi lingkar pinggang rampingnya. Tiga kawannya cuma bisa melambai-lambai, memanggil-manggil, menyuruhnya segera menepi.
Layang-layang kecil terus mengapung di udara bersama hawa garam yang semerbak. Puri-puri pasir kelabu telah musnah digerogoti jilatan air laut. Beberapa pemuda-pemudi berhenti bermain di tepian pantai. Mereka bengong menyaksikan kegiatan gadis nekat itu. Andong-andong beroda dua pun berhenti. Orang-orang di warung telah berjejer di bibir pantai. Semuanya membisu.
Mendadak gadis itu lenyap. Orang-orang terhenyak. Mulut-mulut melongo. Nafas-nafas tertahan. Tapi tidak ada yang berani mengambil risiko. Mereka hanya bisa berdiri menonton adegan mendebarkan seolah kematian adalah tayangan memukau. Ya, mereka terpaku pada keingintahuan, apakah kematian betul-betul mengasyikkan untuk disaksikan sewaktu menelan bulat-bulat hak hidup gadis nekat itu. Mereka ingat bahwa laut Selatan ini paling sering mendulang korban kendati di pintu gerbang pantai telah terpasang papan bertuliskan “No Swimming. Dangerous. Dilarang mandi di laut. Berbahaya”.
Tiba-tiba salah seorang kawan pria gadis itu berlari ke arah laut. Pria itu segera melayang dan menceburkan dirinya. Selanjutnya ia berenang menuju tempat lenyap gadis tadi. Lantas ia menyelam selama beberapa saat. Orang-orang semakin membeku dengan nafas yang amat tertahan.
Tak berapa lama kemudian keduanya muncul kembali di permukaan air yang berketinggian antara dada dan pusar. Keduanya berpelukan di sela-sela debur geram ombak mengganas serta deru gerutu banyak orang di bibir pantai Parangtritis.
*******
parangtritis, 10 september 2002
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:10 PM
Tangisan Tanah Bernanah
“Ngggggg..... nggggggg..... ngggggg......”
Suara tangisan merambat lirih terseret desis angin gersang. Seketika memenggal kegiatan dua pemuda yang sedang mencari lokasi mancing.
“Ssst...” Keduanya melayangkan pandang ke sekeliling. Tiada siapa-siapa. Pepohon punah. Sesemak sepi. Unggas liar tak tampak melintasi. Sepeda jengki mereka tergeletak di kemiringan tanah. Sana-sini hanya terhampar gundukan pasir bekas penambangan inkonvensional.
“Noy, jangan-jangan itu suara hantu penunggu daerah ini,” bisik Oji lirih.
“Hush! Ngomong sembarangan. Siang bolong begini, mana berani hantu nongol. Lebih-lebih kalau dia ngeliat tampangmu yang berantakan ini.”
“Gigi gondrong!”
“Ngggggg..... ngggggggg..... nggggggg....”
Suara pilu itu mengalun lagi. Kedua pemuda itu kembali diam. Mereka saling pandang, mengernyitkan alis. Mereka tidak lagi berminat mencari lokasi mancing di aliran parit sempit yang mengalir pelit di selangkangan gundukan tandus itu.
Terik mentari tengah hari begitu bengis mencabik-cabik gunungan pasir pongah menantang langit. Gunungan pasir itu diakibatkan oleh ulah kebiadaban orang-orang membongkar kedalaman tanah, menghisap biji-biji tambang sepuas-puasnya. Dan ketika habis, dibiarkan menjadi lubang raksasa menganga dan gunungan pasir gersang merana. Malangnya, sebagian orang memakai tameng berupa kebutuhan perut dan peraturan daerah. Malangnya juga pemerintah daerah seringkali berkelit mengenai hal tersebut.
“Ngggggggg.... ngggggggg..... nggggggg......”
“Kamu dengar itu, Noy?”
“Iya, iya! Kupingku nggak tuli! Sudahlah, mendingan kita cari sumber tangisan itu, Ji. Siapa tahu ada gadis yang diperkosa. Kasihan, kan. Apalagi daerah ini jauh sekali dari rumah orang.”
“Ayo! Siapa tahu dia seorang bidadari yang tergelincir dari langit.”
“Nah, itu artinya rejeki kita! Meski kita pengangguran begini, siapa sangka kita bisa beristrikan bidadari.”
“Wah, kalau memang kelak begitu, kita harus segera bikin perjanjian nih, Noy.”
“Perjanjian hidungmu berlubang itu! Ini darurat, kita harus menolongnya!”
Keduanya bergegas mencari sumber suara. Sambil menuntun sepeda, mereka menyusuri tepian aliran parit sempit itu secara berlawanan dengan arah alirannya. Mereka tidak berpencar, sebab khawatir kalau-kalau kelak malah bertemu dengan kawanan laki-laki yang disangka Onoy memperkosa tadi.
“Noy, coba kau cium,” celetuk Oji seraya menggerakkan kepalanya seperti sedang mengendus-endus sesuatu, “semacam bau bangkai, kan?”
“Betul. Tapi makin ke hulu, warna air parit ini makin aneh! Buteknya kental.”
Oji menoleh ke parit. Kok aneh, pikirnya. Dipakainya pancing untuk menyentuh air parit itu. Lalu diciumnya. Sontak mukanya berubah kecut. “Airnya busuk! Cuih!”
“Busuk, Ji?”
“Iya! Nih cium aja sendiri kalau nggak percaya.”
Onoy pun kaget. Tak ayal konsentrasi kedua pemuda ini terbelah lagi. Mereka menarik kerah depan kaos oblong mereka. Hidung mereka kewalahan menahan serbuan bebauan busuk. Keduanya lebih memilih mencium aroma keringat tubuh mereka.
“Tapi aku heran betul, kok nggak ada lalat seekor pun ya, Noy?”
“Mana aku tahu. Aku bukan pakar lalat. Ayo cari lagi!”
Keduanya terus menyusuri tepian parit itu. Mata mereka tetap menyapu kesana-kemari, ke samping atau ke atas tebing-tebing pasir.
“Eh, Noy, suasana di daerah ini kok beda dengan 8 tahun silam, ketika kita masih duduk di bangku SMP dan sering mancing di kolong di ujung sana ya,” bisik Oji
“Iya. Dulu semak-semaknya tebal, pepohonannya rindang. Unggas liar bebas melintas dan menyanyi. Lantas, sekarang?”
“Dulu kita bisa mancing sambil nyari keremunting, masang pelepas burung ketutu dan puyuh. Kini... astaga bener ya!”
“Kamu lihat nggak waktu di pesawat kita sebelum turun di bandara?”
“Yang katamu ‘pulau ini kok ada panu’ itu?”
“Ya. Panunya ya ini, bahkan sejenis kanker!”
“Bener, Noy. Eh, ssssst!”
Tiba-tiba Oji menghentikan langkahnya sambil menunjuk ke sebelah kanan atas. Onoy langsung menoleh ke arah telunjuk Oji. Sinar silau menerjang matanya. Di atas gundukan setinggi tiga puluh meter itu tampak seorang perempuan sedang bersimpuh sambil menangis lirih. Elang Sikep melayang-layang di atas mereka.
“Itu bidadarinya! Kita naik, yuk,” ajak Oji secara berbisik dan memberi kode dengan telunjuknya. Onoy mengangguk mantap dibarengi kode jempol lagi.
Mereka mendaki gundukan pasir tinggi itu. Bau busuk masih tercium. Sepeda dan pancing mereka tinggalkan begitu saja. Perlahan-lahan mereka mendaki, mendaki dan mendaki, hingga akhirnya sampai di puncak, tak jauh dari letak sosok manusia itu.
Sialan, guman mereka dalam hati. Ternyata seorang nenek-nenek. Air muka keriputnya melukiskan kedukaan yang dahsyat. Matanya membengkak bagai tanggul yang kepayahan menahan air matanya. Mereka berjalan mendekatinya. Kemudian masing-masing berjongkok di sebelah nenek ini.
“Mengapa Nenek menangis?”
Nenek tua ini sesenggukan. Tangan kanan rentanya terangkat berat ke samping kanannya. Telunjuknya seolah menjadi juru bicaranya. Serta-merta Onoy dan Oji mengikuti arah telunjuk itu. Nun di sana tampak sebuah gundukan tua yang membentuk lubang menganga lebar sekali. Bekas galian usang. Kondisinya amat parah. Bibir lubang mirip pinggir koreng abadi. Di permukaan air nanah beracun itu berkubanglah beribu-ribu mayat dan bangkai manusia serta tulang-belulang lainnya. Seketika hembusan angin menyambar, sehingga semakin memekarkan bau busuk.
*******
bumiimaji, 2002
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:10 PM
Kalajengking
Bahwa Oji tiba-tiba suka mencari kalajengking, banyak tetangganya yang tahu hal itu. Setiap pulang sekolah dan dengan masih berseragam putih-merah, Oji akan membongkari tumpukan-tumpukan apa saja untuk mendapatkan hewan berbuntut sengat itu. Entah di samping rumahnya, rumah tetangganya atau pun kebun di sebelah rumah orang. Tak lupa dikantonginya plastik bening.
Bahwa kemudian Oji akan membakar dan memakannya, tidak ada orang yang tahu. Sebab, ia selalu sembunyi-sembunyi sewaktu melakukan itu. Mula-mula ujung ekor hewan itu dibuangnya. Kemudian dicucinya bersih-bersih. Setelah itu dibakarnya di tungku dapur rumahnya. Di situ ia akan asyik memanggangi hewan itu sambil diolesinya dengan kecap. Kata kawannya, dengan sering memakan kalajengking ia akan menjadi kebal terhadap sengatan buntut maut kalajengking. Bahkan kelabang pun pernah dibakar dan disantapnya.
Satu waktu matahari mulai turun di sebelah barat. Di atas sebuah batu gunung yang memanjang dan tak pernah habis digempuri para pementung batu untuk bahan pondasi bangunan, tampak Oji tengah asyik membongkari beberapa tumpukan lempengan batu. Dan, ia menemukan seekor. Ia tersenyum. Kalajengking batu, kata orang. Ukurannya agak besar. Warnanya hitam kecoklatan. Lalu, seperti biasa, ditangkapnya pada bagian buntut maut itu, agar sengatnya tidak berkutik.
Saking senang hatinya, ia lengah. Saat mengangkat buntut si kalajengking, senjata itu menusuk jarinya. Sakitnya minta ampun. Ia pun sakit demam semalaman.
***
babarsariyogya, 2002
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:06 PM
BERITA PAGI
Hari Minggu beranjak meninggalkan pagi. Warung bubur kacang hijau itu mulai lengang ketika beberapa pembeli yang berpakaian sport usai menikmati sajian pemulih tenaga.
“Juk, entar siang mancing yo,” ajak Demun pada penjaga warung bubur kacang hijau.
“Ya, nanti, kita lihat aja,” sahut Jujuk seraya membereskan meja.
“Aku pusing, Juk,” ujar Demun. “Kemarin aku nyari duit ke kampung untuk biaya operasi anakku, si Syila, nggak cukup.”
“Butuh ongkosna seberaha?”
“Tilu lima juta, Juk.”
35 juta? Kepala Jujuk tersentak sedikit. Ia membayangkan pekerjaan Demun yang hanya petugas cleaning service sebuah kampus dan istrinya yang berjualan tahu-tempe goreng kecil-kecilan. Mana nyukup atuh, pikirnya.
***
“Juk, minta es tehnya, Juk.”
“Wah, dari mana, Noy, pakai hitam-hitam?”
“Pulang layat, Juk. Bapaknya kawanku semalam meninggal akibat sakit kencing manis. Jam 2 siang kelak baru akan dimakamkan. Sebentar lagi aku mau balik ke sana,”
Jujuk tidak menimpali. Ia sedang menyiapkan minuman pesanan Onoy.
“Mau ikut mancing, nggak, Noy?” ajak Jujuk. “Barusan Demun ke sini. Dia ngajak mancing. Baru pusing, katanya.”
“Pusing karena mikirin anaknya?”
“Ya iyalah. Bayangin aja, duit 35 juta bakal dia dapat dari mana dalam waktu cepat buat biaya operasi anaknya itu? Pulang-pulang dari rumah orang tuanya subuh tadi, dia langsung ke sini,”
“Iya, ya. Kasihan banget. Anak satu-satunya, pinter, lucu, lincah. Di balik semua itu, malah sakit lemah jantung,” sahut Onoy lirih.
Ia terbayang anak itu. Hobbynya membaca komik. Setiap sore selalu menemani orang tuanya berjualan camilan goreng di warung kecil dekat gardu ronda. Warung mungil itu warisan mertua Demun, sebab istri Demun adalah anak kesayangan mertuanya.
Anak kecil itu sering juga menyusul ayahnya, si Demun itu, jika nongkrong di warung burjonya Jujuk sewaktu warung camilan mereka buka. Entah baru saja duduk atau sudah sekian menit, anak ini akan menyeret ayahnya pulang. Mungkin anak ini tahu bahwa ibunya harus dibantu, dan ayahnya tidak boleh mencari enaknya sendiri. Kalau dia sudah merengek minta Demun pulang, apa daya bagi Demun. Dengan muka lucunya, si anak ini tersenyum penuh kemenangan.
Ah, anak yang lucu, guman Onoy.
“Lho, tadi kulihat ada bendera putih di pinggir gang masuk rumah Demun,” lanjut Onoy tiba-tiba seakan teringat sesuatu.
“Hah?? Yang bener, Noy?” mata Jujuk terbelalak.
“Bener! Kalo nggak percaya, ayo kita lihat di luar.”
Jujuk dan Onoy segera keluar dari warung itu. Keduanya langsung melihat sebuah bendera putih mungil yang ditempelkan di tengah tiang listrik yang terletak di tepi mulut gang rumah Demun.
“Waduh, jangan-jangan…,” kata Jujuk disertai mimik muka yang kelam.
“Kasihan Demun. Kasihan anaknya yang lucu itu, ya,” timpal Onoy.
“Kalo kamu mau ke rumah Demun, sendirian aja dulu, Noy.”
“Iya deh,” kata Onoy. Ia maklum, jika Jujuk tidak bisa meninggalkan warungnya. Pasalnya, Jujuk hanyalah penjaga bayaran, bukan pemilik warung.
Belum sempat Onoy menghabiskan sisa es tehnya, Demun sudah nongol lagi. Air muka Demun tampak keruh. Nafasnya terengah-engah.
“Mun, siapa yang meninggal?” tanya Onoy agak hati-hati, juga mewakili pertanyaan yang ingin diajukan Jujuk.
“Barusan mertuaku, kakeknya Syila meninggal. Sakit gulanya kambuh,” kata Demun.
Jujuk dan Onoy diam. Tidak menanyakan soal jadi-tidaknya mereka mancing, atau menanyakan bagaimana kabar Syila. Serta-merta sunyi menyambangi warung bubur kacang hijau itu.
*******
Babarsarijokja, Januari 2002
[cerpen ini tergabung dalam antologi cerpen pendek bersama “Graffiti Imaji”, Yayasan Multimedia Sastra, 2002]
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:06 PM
Pak Culik
Mentari belum panas benar. Oji dan kawan-kawannya bermain di halaman rumah Nek Jarmi. Mereka.belum cukup umur untuk masuk taman kanak-kanak. Beberapa ibu-ibu tengah sibuk mengasuh bayi-bayi.
“Kalian jangan main jauh-jauh ya!” teriak ibunya Oji. “Kelak ada Pak Culik, matilah wo.”
“Iya, Mak.”
Oji dan kawan-kawannya selalu diingatkan tentang Pak Culik. Diingatkan tentang bahayanya Pak Culik. Diingatkan tentang betapa horornya kegiatan Pak Culik. Dan peringatan ini sangat sering dimunculkan waktu mereka bermain.
Pak Culik. Entah siapa nama aslinya. Entah di mana tinggalnya. Orang-orang kampung Sri Pemandang Pucuk biasa menyebutnya “Pak Culik” saja. Itu sesuai pekerjaannya. Pekerjaannya? Ya, sebagai penculik anak-anak. Begitu kata orang tua-orang tua di kampung Oji. Nyali Oji dan kawan-kawannya sudah cukup ciut dengan kisah itu.
Juga menurut kisah tetua di kampung itu, kemunculan Pak Culik seringkali dikaitkan dengan pembangunan jembatan. Entah jembatan mana yang sedang dibangun. Anak-anak yang diculik, tidak untuk dijual. Jual-beli balita tidak dikenal di kampung itu. Tapi akan diambil kepalanya.
“Diambil kepalanya?”
“Bukan itu saja, Ji. Kata emak kami, Pak Culik akan mencungkil matanya.”
“Waaa... sadis sekali!”
“Untuk apa?”
“Untuk dibikin jembatan.”
“Mata untuk bikin jembatan? Ngeri benar!”
“Mungkin disambung-sambung.”
Mata untuk membuat jembatan? Aduh, Mak!
Anak-anak itu memang masih bodoh untuk mengerti. Sebetulnya maksud tetua di kampung itu bukan begitu. Tapi, mata itu untuk tumbal atau syarat pembangunan jembatan. Oji dan kawan-kawannya salah mengerti. Ditambah, mereka tidak tahu jembatan mana yang tengah dibangun, bahkan mereka belum pernah melihat seperti apa ciri-ciri Pak Culik yang konon selalu mengendarai mobil pick up dengan sebuah kotak besar berlogo seekor kucing hitam itu. Selama ini belum pernah tersiar adanya korban diantara anak-anak kampung itu.
***
bumiimaji, 2001
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:05 PM
Tebuk Ati
“Tengah hari kemarin emakku melihat Tebuk Ati di belakang rumahmu, Ji.”
Glek! Oji terperanjat. Seketika keasyikan bermainnya tertelan oleh ketakutan. Di belakang rumah Oji berarti tidak jauh dari keberadaan Oji. Tengah hari berarti seperti juga saat ini, saat matahari terik mengerik kulit. Oji cemas.
“Tebuk Ati?” tanya kawannya yang baru mendengar nama itu, karena dia dan orangtuanya belum lama pindah di kampung Oji, Sri Pemandang Pucuk.
“Kata emakku, badannya besaaaar sekali. Tingginya lebih dari emakku. Bulu badannya lebaaaaat sekali. Matanya merah menyala. Kukunya panjang-panjang. Giginya bertaring pula!”
Serentak Oji dan kawan-kawannya pucat. Mereka teringat cerita tetua kampung Sri Pemandang pucuk, Tebuk Ati muncul pada waktu tengah hari. Kesukaannya adalah makan hati orang. Siapa pun yang berhasil didapatnya, akan diambil hatinya lalu dimakan. Mayat korbannya ditinggal begitu saja dengan dada bolong. Tebuk Ati sering bersembunyi dan berkeliaran di belakang rumah-rumah mereka yang berkebun luas dan terkesan liar. Padahal beberapa kali anak-anak itu main ke sana, mencari burung atau mencuri jambu monyet di kebun tetangga.
“Tebuk Ati itu sadis sekali ya!”
“Begitulah. Di kampung ini kami nggak berani main sendiri dan jauh dari rumah.”
“Bagaimana kamu bisa pulang, Ji?”
“Entahlah.”
Anak-anak yang rata-rata berusia empat tahun itu pun saling berpandangan. Wajah mereka membeku. Mulut mereka membisu. Dada mereka berdebar-debar. Sesekali mereka menoleh ke belakang rumah-rumah di sekitar mereka.
*******
babarsariyogya, juli 2001
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:05 PM
Luntai Kucai
Oji gelisah setelah diberitahu oleh kawannya bahwa belum lama ini Luntai Kucai nyelonong masuk ke rumahnya. Oji tidak tahu jam berapa tepatnya si Luntai Kucai bertandang, karena mungkin waktu itu ia tengah tidur atau main di kebun-kebun bersama kawan-kawannya yang lain.
Kawannya yang memberi tahu tadi juga mengisahkan bahwa ketika Luntai Kucai datang, serta-merta orang-orang kampung menutup pintu dan jendela. Mereka tidak sudi meladeninya. Mereka tidak mau ambil resiko. Kedatangan Luntai Kucai bisa berarti ketimpa sial sesial-sialnya sial.
Konon, Luntai Kucai selalu muncul pada waktu siang bolong. Seisi kampung Sri Pemandang Pucuk pun geger. Anak-anak kecil berlarian masuk rumah. Tidak ada yang berani main di luar. Ketakutan, sampai-sampai tidak satu pun anak kecil yang berani menangis. Mereka hanya berani mengintip dari celah jendela atau lubang angin.
Luntai Kucai. Itu cuma nama julukan. Entah siapa nama aslinya. Entah dia dari kampung mana. Pakaiannya compang-camping. Bolong sana bolong sini. Robek di mana-mana. Kerjaannya minta-minta dari rumah ke rumah, dari pintu ke pintu. Minta makan dan minta duit. Terserah diberi makan apa, terserah diberi duit berapa. Yang penting diberi makan dan diberi duit. Cukup segitu, dia sudah puas.
Suatu hari ayahnya Oji menceritakan bahwa rumah mereka pernah kedatangan seorang yang sangat memprihatinkan sekali. Orang itu minta makan, dan kebetulan ada makanan. Orang itu juga minta uang untuk pulang, dan ayahnya memberikan uang sejumlah yang disebutkannya. Kata ayahnya, nenek-nenek gembel itu adalah jelmaan arwah eyang-buyut. Karena ketika Oji sekeluarga berkunjung ke rumah eyangnya, sang eyang mengatakan bahwa leluhur sempat berkunjung ke rumah Oji, menjenguk buyut.
Oji masih tidak mengerti, apakah Luntai Kucai itu sungguh-sungguh orang gila, atau jelmaan arwah. Yang jelas, Oji beserta kawan-kawannya selalu waspada, jangan sampai mereka bertemu bulat-bulat dengan Luntai Kucai yang tak pernah satu kali pun mereka lihat itu.
***
bumiimaji, 2001
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:04 PM
Akiun
“Hoooi, awas ada Akiuuuun!” teriak Endot sambil berlari dari pinggir jalan menuju tempat Oji dan kawan-kawannya bermain di halaman rumah nek Jarmi.
“Matilah!”
Oji dan kawan-kawannya blingsatan. Jantung mereka berdegup kencang. Oji dan kawan-kawannya langsung memberesi perkakas bermain mereka. Secepatnya mereka mengumpuli perkakas permainan mereka.
“Lariiii!!”
Belum selesai semua, mereka sudah lari berhamburan. Takut kalau tiba-tiba Akiun menyerang tanpa tahu sebabnya. Oji pun tidak mau terperangkap. Tidak lucu rasanya kalau sampai digebuki si Akiun.
“Ke rumah kamu saja, Ji.”
“Ya.”
Beberapa ibu-ibu – yang sedang mengasuh bayi dan anak-anak yang berusia satu hingga dua tahun – hanya geleng-geleng kepala. Anak-anak itu masuk rumah Oji. Pintu langsung ditutup. Pintu mereka kunci dari dalam. Aman. Kemudian mereka serempak menuju jendela. Sembunyi di balik korden. Mau mengintip Akiun lewat.
Di sana, di jalan, Akiun lewat. Pemuda gondrong gimbal yang tidak waras ini berjalan dengan langkah meyakinkan. Tak lupa membawa kayu. Kayu itu disejajarkan dengan lengannya. Tuk! Wak! Gak! Pat! Seolah seorang jenderal yang sedang memeriksa barisan. Atau, seorang prajurit yang tertinggal dari barisan. Atau juga, peserta karnaval kesiangan.
Setiap hari Akiun melintasi kampung mereka, kampung Sri Pemandang Pucuk. Kebiasaan ini lebih dikarenakan oleh kesukaannya. Ia suka keliling ke mana saja tanpa tujuan. Bisa bolak-balik dua-tiga kali. Kadang ia berhenti, memandang sekitar. Saat lainnya ia duduk di atas batu sebesar tempat duduk di tepi jalan kampung Oji. Menjelang maghrib ia akan lewat lagi alias pulang. Rumah orangtua Akiun terletak setelah dua kampung dari kampung mereka, dan melalui jalan tembus belum beraspal di antara kebun-kebun penduduk hingga pelosok.. Dan, ia selalu membawa kayu. Kayunya pun sering berganti-ganti, tergantung seleranya. Entah ia mendapatkannya di mana. Asalkan bisa menjadi aksesoris penampilannya. Ia tidak pernah menyalahgunakan kayu tersebut untuk memukuli orang atau anak-anak.
Oji dan anak-anak kampung itu tidak tahu apa sebab Akiun bisa begitu hebohnya. Orangtua mereka pun tidak tahu. Ada yang bilang, itu gara-gara Akiun tidak sengaja telah mengencingi sebuah kuburan. Penghuni kuburan ngamuk, merasuki Akiun hingga Akiun kehilangan kewarasannya. Ada juga yang bilang, ketidakwarasan Akiun diakibatkan oleh ulahnya mengatapel burung murai di sebuah kuburan Cina. Orang-orang kampung itu mempercayai burung murai adalah burung angker, jelmaan arwah dan mengandung kutukan, karena setiap hari burung itu bermain di kuburan Cina.
Oji dan kawan-kawannya masih berdebar-debar mengamati situasi. Mereka akan keluar dari persembunyian bila sosok Akiun telah mengecil di ujung jalan kampung. Sementara ibu-ibu itu masih tetap asyik dengan ngerumpi di halaman rumah Bik Jamilah. Anak-anak yang disuapi tadi segera sembunyi di belakang ibunya. Sesekali ibu-ibu itu menoleh ke jalan, ke arah Akiun lewat.
Di sepanjang jalan Akiun tetap tegap berjalan. Langkahnya mantap, tegak dan penuh percaya diri. Lalu ia tersenyum, menyeringai, tanpa menoleh kanan-kiri.
***
bumiimaji, 2001
dipajang oleh: agustinus
pada pukul 4:03 PM